Kamis, 27 Maret 2014



TUGAS INDIVIDU

Nama      : Ria Widya Ningsih

Kelas       : 6C




CINTA 
Kahlil Gibran




Mereka berkata tentang serigala dan tikus

Minum di sungai yang sama

Dimana singa melepas dahaga



Mereka berkata tentang helang dan hering

Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yang sama

Dan berdamai diantara satu sama lain

Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu



Oh cinta, yang tangan lembutnya

Mengekang keinginanku

Meluapkan rasa lapar dan dahaga

Akan maruah dan kebanggaan

Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku

Memakan roti dan meminum anggur

Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku

Biarkan rasa haus membakarku

Biarkan aku mati dan binasa

Sebelum kuangkat tanganku

Untuk cangkir yang tidak kau isi

Dan mangkuk yang tidak kau berkati



Dalam puisi Kahlil Gibran diatas terdapat beberapa gaya bahasa, diantaranya adalah:
a. Gaya Bahasa Asonansi

     Gaya bahasa asonansi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama pada suatu kata atau beberapa kata.
contohnya :
Biarkan rasa lapar menggigitku
Biarkan rasa haus membakarku
Biarkan aku mati dan binasa

Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa asonansi pada kata "biarkan". kata tersebut terjadi pengulangan bunyi vokal yang sama.




b. Gaya bahasa Litotes
      Gaya bahasa litotes adalah mengecilkan atau mengurangi keadaan yang sebenarnya.
contohnya:
Menggoda diriku yang lemah ini

Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa litotes yang mengecilkan keadaan yang lemah pada dirinya.



c. Gaya bahasa Personifikasi
     Gaya bahasa personifikasi yaitu gaya bahasa yang membuat suatu benda mati bertingkah seperti manusia. 
contohnya: 
Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu

Dari kutipan tersebut jelas terlihat bahwa bangkai-bangkai mati seakan-akan hidup seperti manusia. 



d. Gaya bahasa Hiperbola
     Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
contoh:
Biarkan rasa haus membakarku

Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa hiperbola pada kata rasa haus membakarku. pada kata haus membakarku terlalu berlebihan, karena tidak ada rasa haus sampai membakar diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar